ciheras university

Utopia Tersembunyi di Pulau Jawa

Indra Triwibowo
Teknik Elektro UGM

Kisah ini menceritakan salah satu perjalanan dalam hidupku ke tempat yang mengubah, membuka pikiranku tentang betapa luasnya dunia ini. Cerita ini dimulai saat aku menjadi mahasiswa Teknik Elektro UGM pada semester 5 saat aku harus menjalankan kerja praktik di sebuah perusahaan. Saat itu aku sangat bingung akan kerja praktik di mana, kemudian saat temanku mengajakku untuk kerja praktik bersama maka tidak mungkin aku tolak. Pada awalnya kami mencari perusahaan yang memiliki nama cukup terkenal seperti PLN, Pertamina, Indonesia Power dan PJB. Namun takdir tidak membawa kami ke sana, takdir membawa kami ke tempat kecil yang bernama Ciheras.

Perjalanan panjang selama lebih dari 10 jam kami lalui dari Yogyakarta menuju ke Ciheras pada malam pergantian tahun. Mulai dari kemacetan jalan sampai kondisi jalan naik- turun kami lalui agar sampai ke Ciheras. Namun sesampainya di sana yang kami temui adalah sebuah tempat yang berada di pinggir Pulau Jawa, bangunan dengan dinding triplek dan lantai beralaskan tikar. Sebuah tempat yang memiliki banyak keterbatasan, namun di situlah aku menyadari banyak hal yang sering terlupakan.

Kincir angin yang berhenti berputar saat mentari mulai keluar dari ufuk timur serta udaradingin nan segar selalu mengawali hari-hariku di Ciheras. Sebuah suasana pagi yang mungkin sudah sulit dicari di kota-kota besar, suasana hening dan tentram, waktu pagi biasanya aku habiskan untuk membaca buku, ngobrol dengan teman ataupun olahraga di pantai. Waktu pagi ini merupakan waktu yang paling cepat berlalu, tidak terasa sudah jam delapan yang merupakan saat bagi kami untuk briefing pagi, menyampaikan rencana-rencana yang akan kami lakukan selama 1 harian penuh.

Setelah menyelesaikan briefing, Bang Ricky biasanya membacakan buku bahasa Jepang tentang revolusi mental diselingi dengan serta cerita-cerita pengalaman Bang Ricky saat masih di Jepang. Saat cerita inilah sering diiringi gelak tawa, terutama saat Turino datang dan menghibur kami dengan segala tingkah lakunya. Turino merupakan salah seorang warga sekitar yang mengalami sedikit kekurangan mental, namun di sini aku melihat teman-teman tetap menerima Turino tanpa adanya diskriminasi atau lainnya yang mungkin banyak terjadi di tempat lain.

Setelah briefing selesai, kami mulai mengerjakan kegiatan yang telah kami rencanakan sebelumnya. Di sini terdapat 4 macam tim yang berkaitan dengan kincir angin, yaitu bilah, generator, controller dan data logger. Aku sendiri tergabung dengan tim generator bersama 9 teman lainnya, keseharian kami sebagai tim generator adalah menyimulasikan perancangan generator serta diskusi mengenai permasalahan yang muncul di tengah jalan.

Segala kegiatan yang berlangsung di Ciheras ini didasarkan oleh kesukarelaan, tidak ada paksaan untuk belajar ataupun mnegerjakan sesuatu. Akan tetapi, suasana di sini sangat berbeda dengan tempat belajar lainnya yang pernah aku datangi, di sini kita akan merasa malu jika hanya santai-santai sedangkan teman-teman lain sedang sibuk dengan kegiatannya. Sehingga secara tidak sadar aku juga ikut terbawa suasana untuk bersemangat mengerjakan simulasi. Walaupun perbedaan pendapat sering terjadi saat diskusi namun hal ini yang membuat kami di sini semakin berkembang tidak hanya dalam bidang akademis.

Suasana fokus dan serius saat mengerjakan kegiatan akan mulai menghilang saat sore tiba terutama ketika sudah terdengar suara bola voli maka semua akan menuju ke lapangan voli. Aku memang tidak sering ikut bermain tetapi hanya dengan ikut menonton saja sudah bisa menghilangkan rasa penat selama melakukan simulasi. Bang Ricky selalu berkata tentang pentingnya olahraga agar badan tetap sehat, selain itu voli dipilih karena selain menyehatkan badan tetapi juga melatih kerja sama tim.

Selain voli ada juga yang ke pantai untuk bermain futsal sambil menunggu sunset indah yang terdapat di Ciheras, pantai pribadi kami. Semua kegiatan olahraga di sore hari akan selesai ketika adzan Magrib mulai ber- kumandang, kami bergegas mandi dan pergi ke masjid bersama-sama. Di masjid yang hanya berjarak 150 meter, aku mendapatkan semangat baru ketika melihat anak-anak di sana sangat antusias untuk belajar mengaji setelah sholat Magrib. Kami sebagai mahasiswa yang KP di sana mulai tergerak untuk ikut mengajar ngaji anak- anak di sana sembari kami juga masih belajar.

Suasana sunyi dan gelap menyertai datangnya malam hari di Ciheras, namun kegiatan kami masih belum berakhir karena setiap jam 8 malam akan ada evaluasi, seberapa sukseskah rencana kita yang kita jalankan di hari itu, sekaligus untuk menginstropeksi diri sendiri. Setelah evaluasi, Bang Ricky akan membacakan lagi buku bahasa Jepang tentang “Jangan
dengarkan kata orang lain”. Sebuah buku yang menginspirasi terutama untuk meningkatkan rasa percaya diri dan tidak mudah mendengarkan kata orang lain.

Setelah selesai pembacaan buku, kami biasanya melanjutkan dengan bermain-main, ada banyak permainan yang sering kami mainkan di malam hari untuk menghilangkan rasa lelah agar kembali segar esok hari. Permainan seperi kartu remi, kartu UNO, werewolf, gaplek sampai PES menemani malam kami, tidak terasa kami bisa main sampai jam 12 malam.
Kemudian kami akan mencari tempat luang untuk tidur, walaupun hanya beralaskan tikar tetapi aku merasakan tidur cukup nyeyak di sana.

Selain keseharian rutin yang kami jalani di Ciheras ini, kami juga mengikuti kegiatan lain seperti saat penanaman indigofera, tanaman yang dipakai untuk pakan kambing dan domba yang dimiliki oleh LBN. Selain milik sendiri, LBN juga bekerja sama dengan warga sekitar dalam bidang perternakan kambing dan domba ini. Bisa dibilang adanya LBN mengubah
perilaku hidup warga di sana yang awalnya mengeksploitasi tambang pasir dan sering menyemprotkan obat pembasmi rumput yang merusak lingkungan, sekarang mereka menggantungkan hidup pada rumput untuk pakan kambing dan domba mereka.

Hari demi hari kami lewati di Ciheras sembari menyelesaikan tugas KP dan bersantai menikmati alam yang indah di Ciheras, tidak terasa sudah satu bulan kami KP di sana. Sudah saatnya pulang dan kembali menjalankan rutinitas di Yogyakarta, mungkin pengalaman KP di sini berbeda dengan yang KP di perusahaan-perusahaan besar, tetapi di sini aku mendapatkan semangat baru untuk mengembangkan potensi Indonesia lebih baik lagi,
menciptakan Ciheras-Ciheras baru di tempat lain. Ciheras, tempat kami memulai menggapai mimpi-mimpi kami dan tempat kami memulai membangun negeri. Ciheras, aku akan merindukan tempat ini, Utopia tersembunyi di Pulau Jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *