ciheras university

THE RAINBOW TURBINE STORY: Tentang Kesungguhan, Keteguhan Hati, dan Ketelitian

Kolaborasi cerita oleh:

Syahrul Nur Wahyudi, Teknik Mesin Universitas Negeri Semarang

Amanda Khaira Perdana, Teknik Elektro Universitas Riau

Syahrul

“Alhamdulillah, kincirnya berputar oy!!”
Sontak semua bersorak gembira atas hasil perjuangan ini. Hanya dengan rasa syukur, senyum lebar, dan sedikit tawa kami merayakan, setelah sekian lama proses menunggu dan sekian banyak proses perbaikan.
.
.
.
“Manda, Adit, malam ini sibuk ndak?”, tanyaku kepada beberapa orang setelah aku terlebih dahulu membuat janji ke bang Sukir, sapaan akrab
anak KP untuk bang Fikri, pada malam yang sama.

“Ada perlu apa ru?”, tanya mereka penasaran.
“Ayolah, nanti juga bakal tau”, jawabku sederhana.

Setelah mereka mengiyakan ajakanku, kami pun berkumpul bersama di ruangan yang tak asing lagi tentunya: ruang belajar. Kami menyebutnya learning room. Di sinilah sesekali kami berkumpul, bermain, dan bergurau
bersama. Diskusi dimulai dengan sedikit mengingat peninggalan
teman-teman TF UGM yang membuat bilah sumbu vertikal selama KP. Mereka membuatnya mulai dari proses perhitungan, analisis,
sampai bilahnya jadi. Kami pun bertekad untuk melanjutkan pembuatan
turbin angin sumbu vertikal (TASV) alias vertical axis wind turbine (VAWT) yang pertama di Ciheras. Harapan kami tidak begitu besar malam itu, hanya ingin melihat penari langit yang berbeda di Ciheras. Malam itu pun menjadi malam yang panjang karena sangat menentukan langkah ke depan. Berjam-jam kami berdiskusi. Mengolah pemikiran, beradu argumen
untuk mewujudkan harapan. Kami mulai membuat desain turbin, mendata kebutuhan alat dan bahan, serta memilih material yang mudah didapatkan. Tentunya dengan bantuan senpai Sukir yang pernah menggeluti hal ini sebelumnya semasa ia KP. Malam itu ialah malam yang panjang. Rasanya begitu melelahkan. Berharap semua harapan kami bisa segera terealisasikan. Dan tentunya, membuat kami bangga menunjukkan suatu capaian.

Turbin Angin lentera Bumi Nusantara
Berdiskusi dengan Kak Inay tentang VAWT

Manda

Pada suatu malam yang dingin di Ciheras, setelah selesai evaluasi, aku beranjak menuju mess untuk mencicil perancangan generator dan laporan KP di laptopku.


Sebelum beranjak mematikan laptop dan bersiap untuk tidur karena sudah ngantuk tiba-tiba Syahrul mengetuk pintu kamarku dan mengajakku berdiskusi ke learning room. Awalnya aku ingin menolak karena sudah terlalu lelah dan sebentar lagi juga masuk waktu dini hari. Namun entah mengapa aku melihat kesungguhan Syahrul mengajakku sehingga aku pun ikut bersamanya menuju learning room. Di learning room seperti biasa masih ada tanda-tanda kehidupan seolah-olah malam merupakan waktu produktifnya anak-anak KP menyelesaikan tugas-tugasnya. Maka di sanalah aku bersama Syahrul dan Adit mulai bercerita panjang lebar.


Awalnya kami bercerita tentang progres KP masing-masing dan hal-hal nirfaedah lainnya. Setelah itu Syahrul langsung masuk ke topik pembahasan bahwa ia dan Adit ingin melanjutkan tugas KP tim TF UGM untuk menyelesaikan proyek VAWT tim UGM. Targetnya sebelum bang Ricky pulang dari Jepang dan tim TM UNEJ pulang ke habitatnya sehingga kami bisa memberikan kejutan untuk bang Ricky. Maka dimulailah perbincangan hangat tentang desain yang akan diterapkan kepada VAWT ini. Namun diskusi kami bertiga ‘ngadat’ pada model desain yang akan dibuat.


Setelah klimaks ngadatnya bang Sukir alias bang Fikri yang sedang gabut di learning room sekaligus Tim LBN yg belum tidur (karena galau mikirin yg jauh disana ehehe) bergabung dengan diskusi kami. Dan mulailah bang Sukir memberikan referensi kepada kami soal perancangan VAWT sewaktu dia mengikuti PKM di kampusnya. Kami ‘mencontek’ sedikit dari desain VAWT bang Sukir dan mulailah merancang ulang dengan SolidWorks setelah desain yang kami mau telah terbayangkan. Namun betapa Terkejutnya aku ketika bang Sukir dengan santainya dan ditambah wajah polos lugunya mendesain VAWT dari layar putih kosong sampai menjadi VAWT tiga dimensi. Aku makin terpana, bang Sukir yang saat itu kesehariannya lebih sering saya temui memberi makan lele, merawat kambing, membantu tim LBN ternyata merupakan master di software SolidWorks.


Dengan telaten bang Sukir mendesain berdasarkan ‘suruhan’ dari kami bertiga agar sesuai dengan yang kami inginkan. Dan dengan sabar pula bang Sukir menerjemahkan kemauan kami. Setelah desain selesai akhirnya kami mulai membahas bahan-bahan yang akan dibeli esoknya. Sekitar pukul 3 pagi semua bahan dan desain yang akan dikerjakan telah selesai. Kami pun larut dalam mimpi masing-masing.


Pagi pun datang dengan janji-janji dan harapannya. Dan pagi adalah momen yang selalu kusukai. Setelah shalat shubuh dan mandi aku mengucapkan rasa syukur dan terima kasih pada Tuhan untuk tempat KP-ku dengan membereskan pekarangan sekitar site. Setelah selesai aku sarapan sendirian ke warung Bu Susi (dan memang sudah terbiasa sendiri juga ehehe).

Setelah sarapan aku pamit ke kak Inay sekaligus izin tidak ikut briefing karena harus ke Tasik belanja bahan-bahan. Jam 7.30 waktunya aku dan
bang Sukir berangkat dengan motor pak guru alias bang Ryanto yang remnya blong (huhuhu).


Dengan bantuan google maps kami mengelilingi Tasik mencari bahan-bahan yang akan digunakan. Dengan sabar kami bertanya-tanya mengelilingi toko-toko yang ada di Tasik. Sore pun tiba. Dengan perjuangan dan kesabaran akhirnya kami mendapatkan semua bahan yang diinginkan. Sayangnya kami lupa merencanakan bagaimana cara membawa bahan-bahan yang besar-besar dan berat ini. Akhirnya aku change player membawa motor dan bang Sukir mengorbankan dirinya memegang bahan-bahan yang kami beli (huhuhu). Berkali-kali kami berhenti di tepi jalan untuk pergantian posisi barang-barang yang dipegang di tangan dan kaki bang Sukir yang sudah pegal-pegal. Hampir saja kami menyerah dengan meminta jemputan dari Ciheras untuk membantu kami tapi terpaksa diurungkan karena kami lelaki sejati yang harus kuat tegar dan tidak boleh mengeluh. Dengan kecepatan penuh kami kembali ke Ciheras dengan keadaan pegal lelah capek. Hari ini pembelian bahan untuk pembuatan VAWT pun selesai sudah.

Tempat bersejarah yang memasok semua keperluan VAWT
Turbin Angin lentera Bumi Nusantara
Armand Pak De membantu memotong pelat


Sementara itu teman-teman yang tinggal di site mengerjakan pembuatan VAWT. Hari kedua dan seterusnya kami mulai memotong-motong dan menyusun bahan-bahan agar sesuai dengan yang kami inginkan. Seiring berjalannya waktu disinilah lagi-lagi aku belajar tentang kesabaran, kesungguhan, ketelitian, dan tidak putus asa. Banyak kendala seperti kurangnya tenaga kerja. Pada saat seperti itu hati pun bergumam lagi untuk menyerah saja. Rasanya lebih baik produktif menyelesaikan agenda
pribadi. Terbesit rasa lelah dan kecewa di hati melihat kondisi yang ada dan aku merasa berjuang dengan beberapa orang saja. Padahal waktu itu banyak anak-anak yang sedang KP. Padahal juga kerjaan yang dilakukan ini pun untuk kebaikan bersama dan membawa ‘nama’ bersama. Tetap saja
mungkin sudah sunatullah-Nya manusia itu banyak macam dan karakternya. Tak hanya di tempat ini. Di organisasi yang pernah dan sedang aku geluti memang sama saja sejatinya akan ada orang yang mengerti serta membantu, hanya mau tau, hingga tidak mau tau tentang keadaan kita.

Tugas kita bukanlah ‘menjudge’ mereka atau kecewa dengan keadaan. Disinilah aku berusaha ‘naik’ tingkatan dalam hal memahami suatu hal yang bernama ‘penerimaan’. Belajar dari pengalaman kak Inay tentang arti menerima apapun hal yang telah digariskan kepada kita. Jangan pernah menyalahkan keadaan apalagi menyalahkan orang lain. Aku yang mula-mula mulai nge-down dalam proses mengerjakan bilah ini akhirnya memilih tetap menjadi seorang samurai sejati seperti yang sering diceritakan bang Ricky di setiap waktu kami briefing dan eval. Menjadi samurai hanya ada dua pilihan: menang atau mati.

Hari demi hari berlalu. Silih rintangan berganti dan tibalah waktunya Rainbow VAWT (sebenarnya aku tidak sepakat dengan nama pemberian kak Inay kepada kincir ini karena terlalu unyu dan imut huhuhu). Syahrul dkk seperti biasa menjadi inisiator untuk mengadakan upacara bendera esok pagi sekaligus ‘pensakralan’ pemasangan kincir ini yang untuk pertama kalinya dipasang di Ciheras. Setelah berdiskusi ria akhirnya terpilihlah petugas-petugas upacara dengan bimbingan pembina upacara kak Grace dan arahan dari kak Inay. Tidak lupa juga yang paling ditekankan kak Inay kami anak-anak KP saat upacara esok harus memakai baju warna warni dan lagi-lagi legitimasiku sebagai lelaki kalah karena telah menjadi unyu dan imut-imut -,-.


Pagi pun tiba.

Syahrul

“Siaap.. Grak!!”.


Dengan lantangnya suara Fajri 1 (ya, yang namanya Fajri ada 2) sang komandan upacara memberi aba-aba peserta upacara. Yaa. Hari itu kami
mengadakan upacara bendera. Karena melihat bendera Indonesia di salah
satu tiang yang sudah tidak bagus lagi. Artinya, perlu bendera baru. Tapi heii, taukah kau? Sebenarnya, upacara ini juga sekaligus untuk meresmikan turbin angin hasil jerih payah kami. Karena kami mau semua menyaksikan keberhasilan kami saat itu.

Manda

Kami semua seperti biasa mengucapkan syukur dengan beres-beres pekarangan di site. Kemudian langsung gladi untuk prosesi penaikan
bendera yang dilanjutkan pemasangan kincir. Aku mendapat kehormatan menjadi pengibar bendera merah putih bersama Syahrul dan Ibnu.
Dan lagi-lagi upacara ini mungkin hanya sekali seumur hidup aku bisa rasakan dengan cara-cara yang ‘unik’ dan sederhana tapi begitu mendalam
menohok hati ini tentang apa artinya kemerdekaan. Apa artinya sebuah perjuangan.


Ya. Hal-hal kecil dan sederhana kadang lebih menentramkan hati.


Dan juga yg bertanggung jawab membuat kebahagiaan dalam hidup kita ya kita sendiri. Kadang nasehat sederhana ini sering kulupakan. Tapi kembali, tanah ini kembali mengajarkan ku arti kehidupan dan aku lebih banyak belajar tentang kehidupan daripada belajar tentang merancang generator atau iseng-iseng membuat bilah kincir angin. Ya bang Ricky juga sering berkata di sela-sela ceritanya bahwa hidup adalah seberapa sungguh-sungguh dan yakin kita bercerita. Seberapa sungguh-sungguh kita mengerjakan sesuatu sesepele apapun pekerjaan itu. Nasehat sederhana ini sering kulupakan dan aku juga lebih banyak mengerjakan sesuatu dengan tidak maksimal dan tergantung mood hati. Ya, itu aku yg dulu hehe. Quote-quote Syeh Renal dan Sholeh saat menggantikan Bang Ricky memimpin briefing dan eval juga menggetarkan hatiku untuk memahami bahwa suatu masalah jangan hanya dipandang dalam salah satu sudut saja. Tetapi pandang dari berbagai sudut pandang agar kau bisa memahaminya dengan benar serta mengambil ibrahnya.

Rizki Junior (Rizki pun ada 2 :D) pun mulai menggerakkan tangannya yang ‘gemulai’ setelah diospek oleh kak Grace dan anak-anak Riau lainnya agar menjadi dirigen yang macho dan benar saat mengiringi lagu Indonesia Raya. Ya, lagi-lagi di tengah kesederhanaan dan keunikan upacara yang kami lakukan hati dan pikiranku berkecamuk. Untuk memanjat tiang kincir angin dan mengibarkan bendera merah putih tanpa peralatan safety yang benar saja sudah melelahkan badan dan membuat pegal, terlebih selama di atas tiang dengan terpaan angin laut. Namun aku ingat bahwa lebih lelah lagi orang tuaku yang mencari uang untuk menyekolahkan
aku dan adik-adikku. Apalagi pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang siap mati seperti filosofi samurai sejati
yang hanya mengingat menang atau mati. Ya, rasanya apa yang aku lakukan selama ini tidak ada gunanya untuk merubah bangsa apalagi
memberi manfaat untuk orang disekitarku.

Turbin Angin lentera Bumi Nusantara
Prosesi upacara pemasangan bendera merah putih dan VAWT

Akhirnya lagu Indonesia Raya pun selesai dinyanyikan dan dilanjutkan pengarahan dari kak Grace kepada kami tentang arti kemerdekaan. Kak Grace juga memberi semangat kepada kami yang ingin berkontribusi merubah nasib bangsa dengan ilmu yang kami miliki.

Upacara pun selesai dan ditutup laporan dari inspektur upacara Fajri 1 dan doa oleh Syeh Reinal. Aku dan Ibnu diberi kesempatan untuk memasang Rainbow VAWT ke singgasananya setelah upacara selesai. Pagi itu angin juga tidak begitu kencang bertiup sehingga tidak ada kendala berarti saat pemasangan kincir ini. Selang beberapa waktu kincir pun terpasang dan kami semua dengan wajah sumringah dan senang berfoto bersama Rainbow VAWT dan dengan tim LBN. Tidak lupa pula terlihat jelas dresscode kami yang ‘dibajak’ kak Inay agar memakai baju warna-warni huhuhu.

Turbin Angin lentera Bumi Nusantara
Inilah foto kami tim Rainbow VAWT yang ceria dan imut-imut

Setelah berfoto seperti biasa kami melanjutkan kegiatan pribadi agar ada bahan eval nanti malam supaya eval kami masing-masing kelihatan keren dan produktif, atau mungkin ‘dipaksakan’ produktif biar keren ehehe.

Namun keceriaan kami tidak berlangsung lama. Siang menuju sore angin bertiup begitu kencang. Sore menuju malam ada badai kecil menerpa kincir-kincir disini. Ya, sudah bisa ditebak. Rainbow VAWT secara resmi berubah namanya menjadi “Istiqomah” VAWT karena hanya diam di tempat dan tidak bergerak walaupun badai menerpanya. Ya, sudah dapat dipastikan kekecewaan kembali menyelimuti hati kami. Esoknya masih tidak ada perkembangan dari kincir kami dan dengan berat hati Syahrul menyarankan menurunkan dan memperbaiki ulang kincir kami.

Syahrul

Setelah upacara bendera kami pun menaikkan TASV, berharap sesuai dengan impian. Beberapa jam kami berdiri, menanti kabar baik dari angin, hingga suatu sore angin berhembus perlahan namun berisik. Sepertinya ia lebih dahulu bersahabat dengan si turbin horizontal, karena penari pendahulu itu semakin riuh suaranya. Akan tetapi TASV kami, sedikitpun tak berputar. Sepertinya ada beberapa kesalahan entah dalam perhitungan atau pemilihan bahan.


Hari itu juga kami akhrinya menurunkan turbin yang baru saja kami pasang. Perlu kau tau, perancangan dan pembuatan TASV ini sengaja kami rahasiakan, agar setelah senpai mendarat dari Jepang menjadi kado terindah: melihat sang pembeda di langit Ciheras. Setelah kemudian senpai mengetahui kabar sedikit kegagalan kami, beliau pun memberikan beberapa masukan untuk perbaikan dan sebagai bekal kami melanjutkan semangat perubahan dan berkarya.

Manda

Waktu kami dari tim UR pun hampir habis KP disini. Kami juga harus menyelesaikan presentasi KP dan proyek pribadi masing-masing untuk
dipresentasikan sebelum pulang. Ada banyak PR yang kami bawa pulang termasuk rasa sedih karena berpisah dengan orang-orang dan tanah ini. Impian melihat tarian warna warni si Rainbow pun pupus sudah. Secara resmi juga proyek VAWT berpindah kontraktor ke Syahrul dan tim KP lain yang tinggal di sini.

Ya, hari kepulangan kami pun tiba. Paginya menyempatkan diri dulu berfoto bersama bang Ricky dan juga kak Inay. Maafkan pose pemaksaan’ku dan pembimbing KP-ku kak Inay yang imut-imut ini. Mungkin foto ini menjadi penghibur lara hati. Perpisahan dengan mereka akan selalu menjadi kenangan yang kami ingat seumur hidup.

Turbin Angin lentera Bumi Nusantara Inayah
Kenanganku dengan Bu Mandor

Mungkin sampai di sini dulu cerita perjalanan kami dan Rainbow Turbine. Aku yakin si Rainbow pasti akan berputar di tangan mereka yang bersungguhsungguh, bersabar, dan tulus menanganinya. Tentang ketulusan, kesabaran, kesungguhan. Masih banyak lagi pelajaran hidup yang di dapat dari sini bila kita membuka mata dan hati.


(Amanda Khaira, UR)

Syahrul

Tidak terhitung berapa kali kami setting ulang, bongkar dan pasang. Sekian kali TASV kami mengudara, lagi-lagi belum ada pertanda untuk berputar. Sempat pesimis karena lelah dan semakin banyak yang harus pulang karena masa yang sudah habis. Namun generasi penerus TASV ini mulai membaik sejak kedatangan anggota baru dari UINSUSKA Riau dan PNP Padang.

Semangat berkarya terus kami lanjutkan, sehingga pada tepat sebelum masaku KP habis, TASV kami berputar. Hanya berputar pelan dan stabil. Sejenak aku pun bisa melegakan nafas dan melontarkan senyum lebar atas kerja keras kami selama itu. Aku percaya, bahwa semua kerja keras suatu saat akan berbuah manis bila kita bersungguh-sungguh.


(Syahrul, UNNES)

Turbin Angin lentera Bumi Nusantara
Pemasangan Rainbow Turbine yang legendaris

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *