ciheras university

Tentang Si Anai Gawai Yang Bukan Anak Golok

Warih Aji Pamungkas
Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada

Saya tahu benar saya adalah anak yang terlahirserba berkecukupan di kawasan perkotaan. Saya tahu benar saya tidak pernah tidur selain dikamar bersih dan hangat dengan kasur empuk. Saya tahu benar saya hanya pernah memegang komputer jinjing dan gawai bukannya cangkul dan golok. Tetapi saya memutuskan untuk melempar diri saya ke tempat ini. Di mana saya melepas kantuk di lantai beton beralas sleeping bag. Di
mana saya mengangkangi leher kambing untuk dimandikan. Di mana saya bisa melampiaskan kecanggungan mengikis kayu mahoni hingga menjadi bilah- bilah kincir yang kurang simetris namun tetap manis. Dimana saya percaya bahwa sejauh apapun saya akan pulang kembali belajar mencintai
takdir sebagai seorang pribumi. Di Ciheras, saya belajar menjadi seorang Aji. Malam ini, saya berdoa agar diperkenankan kembali. Saya paham kamu tidak pernah memegang golok dan cangkul. Saya paham kamu tidak pernah menjalani hidup seperti yang saya dan orang-orang di desa ini jalani. Tetapi kamu punya rasa takut akan itu, yang tidak dimiliki orang-orang lain seperti kamu. Maka teruslah takut dan lempar dirimu ke kehidupan-kehidupan semacam ini. Maka ke-lak ketika kamu menjadi penerus bangsa ini, kamu tahu apa yang diperjuangkan orang-orang
yang akan kamu bela.

Saya tahu benar saya adalah anak yang terlahir serba berkecukupan di kawasan perkotaan. Saya tahu benar saya tidak pernah tidur selain dikamar bersih dan hangat dengan kasur empuk. Saya tahu benar saya hanya pernah memegang komputer jinjing dan gawai bukannya cangkul dan golok. Tetapi saya memutuskan untuk melempar diri saya ke tempat ini. Di mana saya melepas kantuk di lantai beton beralas sleeping bag. Di
mana saya mengangkangi leher kambing untuk dimandikan. Di mana saya bisa melampiaskan kecanggungan mengikis kayu mahoni hingga menjadi bilah-bilah kincir yang kurang simetris namun tetap manis. Dimana saya percaya bahwa sejauh apapun saya akan pulang kembali belajar mencintai
takdir sebagai seorang pribumi. Di Ciheras, saya belajar menjadi seorang Aji. Malam ini, saya berdoa agar diperkenankan kembali. Saya paham kamu tidak pernah memegang golok dan cangkul. Saya paham kamu tidak pernah menjalani hidup seperti yang saya dan orang-orang didesa ini jalani. Tetapi kamu punya rasa takut akan itu, yang tidak dimiliki orang-orang lain seperti kamu. Maka teruslah takut dan lempar dirimu ke kehidupan-kehidupan semacam ini. Maka kelak ketika kamu menjadi penerus bangsa ini, kamu tahu apa yang diperjuangkan orang-orang
yang akan kamu bela.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *