ciheras university

Sebulan di Ciheras

Azis Jamal

Universitas Gadjah Mada

You can check in anytime, you can check out anytime but you can never leave

Salah satu kata yang didapat di Lentera Bumi Nusantara dan mungkin itu benar adanya. Sekitar 3 bulan yang lalu entah mendapat “wangsit” apa aku dan temanku bisa terdampar di suatu tempat di Jawa Barat yaitu Ciheras. Pertama kali tiba di Jawa Barat kami dibingungkan oleh bahasa Sunda yang diucapakan supir angkot untung saja ada seorang bapak bapak menolong kami di tengah kebingungan kami dalam mencapai LBN. Pada akhirnya kami bisa tiba di LBN dengan selamat.

Kami (aku dan teman temanku) menuju LBN dalam rangka kerja praktik. Pertama kali kami tiba di LBN tidak seperti tempat kerja praktik lainnya yang memakai kemeja dan celana panjang, di sini kami melihat mahasiswa-mahasiswa yang sedang kerja praktik juga memakai kaos dan celana pendek ada juga yang memakai sarung. Aku bertanya-tanya, “Benar ga sih ini tempat untuk kerja praktik?”. Bahkan pembimbing kami di Lentera Bumi Nusantara pun hanya memakai kaos singlet. 

Hari pertama di LBN kami dikenalkan bagaimana budaya belajar di tempat tersebut. Kami harus menyampaikan apa yang akan kami kerjakan di hari tersebut di pagi hari dan harus memberikan evaluasi sendiri atas apa yang kami katakan di pagi hari. Kemudian setiap Senin kami harus memberikan presentasi terkait apa yang kami lakukan seminggu belakangan dan apa yang akan kami kerjakan seminggu kedepannya. Untuk sore hari kami  biasanya melakukan olah raga entah voli atau sepak bola. Budaya kerja inilah yang membuatku yakin tempat ini beda daripada yang lain.

Minggu pertama kami di LBN, aku dan teman-temanku bergabung dengan mahasiswa UNEJ dan mempelajari tentang generator untuk kincir angin. Dalam melakukan pembelajaran generator kami melakukan simulasi yang mana nantinya simulasi ini membuat kami cukup menderita. Pada minggu pertama ini entah hari ke berapa aku dikejutkan badai di Ciheras. Angin yang cukup kencang menerpa di waktu setelah subuh. Jujur saja cukup menakutkan karena jarak tempat tinggal kami sangat dekat dengan pantai dan belum lama sebelum kami datang telah terjadi gempa dan memiliki potensi tsunami menambah rasa khawatir kami khususnya aku sendiri.

Minggu kedua kami di sini dan ketiga menurutku tidak terlalu banyak perbedaan kami melakukan simulasi terus menerus hingga kami menemui titik frustasi karena ketika melakukan simulasi kami menunggu prosesnya lama tetapi hasilnya tidak sesuai yang kami harapkan kami ulangi lagi prosesnya terus menerus hingga mendapatkan hasil yang kami inginkan. 

Lentera Bumi Nusantara memang tempat kerja praktik yang beda, kami tidak saja belajar tentang ke-teknik-an di sini kami belajar tentang hidup melalui dongeng anak dewasa yang dibacakan setiap pagi dan malam, kami belajar tentang pertanian, perternakan bahkan tentang konsep ENJOYNEERING..

Tempat ini memang beda bahkan ada mahasiswa yang bilang bahwa tempat ini lebih KKN daripada tempat KKN dia dulu yang mana aku artikan tempat ini memiliki fasilitas lebih minim daripada tempat KKN-nya dulu. Di sini juga mati lampu berarti sinyal HP juga akan mati. Aneh, tapi memang begitu adanya.

Pada akhirnya kami masuk minggu terakhir untuk kerja praktik kami, beberapa mahasiswa yang masa kerja praktiknya kurang lebih sama dengan kami mulai pulang terasa sekali perbedaanya yang tadinya ramai lama-lama menurun karena mahasiswa yang datang baru pun masih beradaptasi dengan lingkungan.

Kami datang pada saat bulan purnama dan pulang saat bulan purnama juga. Tidak terasa sudah 1 bulan kami kerja praktik di sini. Memang kami di sini kalah banyak hal daripada tempat kerja praktik lainnya tapi banyak sekali mendapat pelajaran hidup di sini. Dimulai dengan berteman dengan orang yang kurang normal hingga belajar tentang menerima masalah dan menghadapi penghalang. Aku ingat sekali pelajaran hidup tentang menghadapi sesuatu yaitu tentang ketika kita menemui masalah bisa diibaratkan itu adalah sebuah tembok. Ketika kita sedang berjalan dan menemui tembok apakah kita akan menyerah dan balik saja dari tujuan yang ingin kita capai? Bukan itu yang seharusnya kita lakukan tetapi kita harus mempelajari bagaimana melewati tembok tersebut cari caranya hingga kita bisa melewati tembok tersebut. Halangan bukan membuat kita menyerah tetapi jadikan itu tantangan bagi kita untuk melewatinya. Seperti kata-kata pertama di atas kita bisa kapan saja datang dan bisa saja kapan saja pergi tetapi kami tidak bisa benar-benar meninggalkannya terlalu banyak rindu begitu meninggalkan Ciheras mungkin suatu saat aku akan kembali dan membawa cerita yang berbeda.

Terima Kasih Ciheras, 

Terima Kasih Lentera Bumi Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *