ciheras university

PERPISAHAN

Amanda Khaira Perdana
Teknik Elektro Universitas Riau

Teruntuk bang Ricky, kak Inay, tim LAN dan PT. LENTERA BUMI NUSANTARA, serta sahabat-sahabatku seperjuangan saat KP. Ada kalanya sejenak kita perlu memeluk sepi berhenti membicarakan masa lalu untuk mulai merancang masa depan. Tepat sembilan hari yang lalu mungkin terakhir kalinya saya melihat
tarian-tarian si penari langit itu. Mungkin. Olahraga kecil di sore hari sudah menjadi ritual wajib di sini. Antrian panjang dengan handuk
terselempang di leher atau di bahu sehabis menggiring atau memukul si kulit bundar. Gedoran pintu dan teriakan kata-kata, “Voli…. Voli… Donat…. Donaat” menjadi temanku di kala pagi yang memakan dinginnya malam dan senja sehabis dimakan sore.

Pertemuan di sini tidak hanya sepanjang briefing pagi dan evaluasi malam. Terpatri dalam benakku amanat seorang putra petir: “Kalian ini engineer, kalian-kalian inilah yang nanti akan menggunakan kaidah tangan kanan untuk menerangi dunia dan kaidah tangan kiri untuk menggerakkan dunia dengan cara menarik masa depan ke masa sekarang”. Malam di Ciheras pun lebih panjang dari malammalam di daerah lain. Suara gletak-gletuk domino, derai tawa ketika kalah jongkok, serta sorak bahagia saat mengalahkan bang Ricky dan teman-teman KP lainnya bermain PES menemaniku mengisi malam untuk memejamkan mata di mess yang kami sebut Hotel Kalifornia. “Asiiiiik besok pulang!!!!!”, gumamku.

Namun bila Tuhan tak menanam sedih jauh di dalam nurani niscaya telagaku sudah deras. Banjir membasahi mimpiku yang penuh dengan gundah dan gemuruh sesak di hati. Gengsi pria jauh lebih besar daripada apapun untuk menangisi perpisahan ini. Maka aku mencoba tak menangis ketika esok hari itu tiba. Keluarga memang bukan untuk kita tinggali selamanya, apalagi keluarga di tengah perjalanan. Seandainya saja di waktu malam itu ada yg menawariku kopi tentu saja akan kunikmati betul di penghujungku menghabiskan malam terakhir disini. *) Terinspirasi dari kutipan puisi bang Akmal Hidayat PNJ

Bila kita menjumpai sebuah pertemuan maka di saat itu pula kita harus bersiap untuk menyambut perpisahan. Sudah menjadi ritual wajib di sini
apabila ada yang pulang maka yang masih tinggal di Ciheras wajib hukumnya mengantarkan yang pulang sampai mereka naik bus.

Ya, setiap para samurai-samurai ‘sejhati’ lulusan Ciheras, saat pulang pasti ada perasaan sedih dan tak jarang ada air mata yang tumpah di setiap
perpisahan ini. Namun tak sedikit juga yang malu-malu dan mati-matian menahan air mata dan rasa sedihnya, lalu berpura-pura tersenyum dan seolah biasa saja. Seperti yang aku lakukan setiap ada perpisahan dengan teman-teman KP disini. Minggu pertama yang kujalani di Ciheras adalah
minggu terakhir bagi tim TE UGM Hamam, Wyli, dan Syahrizal sebelum kembali pulang ke habitat mereka. Sebelum pulang tentu tidak lupa berfoto bersama, yang juga merupakan ritual wajib yang harus dilakukan dengan latar kincir angin di belakang kami. Praktis ini adalah foto pertamaku bersama keluarga di tengah perjalanan ini, bersama mereka yang aku yakini akan menjadi orangorang besar dan luar biasa nantinya.

Semoga sukses teman-teman TE UGM yg pulang duluan. Semoga ilmu, semangat, dan Ichi-Ryu nya bisa kita terapkan di kehidupan sesungguhnya. Perpisahan yang paling menyedihkan yang kurasakan adalah saat tim TF UGM Mira, Yuri, Aji dan Bagas pulang kembali ke habitat mereka. Ya, tim TF UGM ini merupakan tim yang paling heboh sekaligus tim yang paling
menguji kesabaran bang Ricky dan tim LAN lainnya dengan tingkah mereka yang sangat luar biasa. Perpisahan dengan mereka adalah perpisahan yang paling menyedihkan karena praktis suasana KP tidak lagi seperti biasanya dan kami merasa sepi dan sunyi di sini. Perpisahan
dengan tim TF UGM membuat suasana kekeluargaan entah kenapa begitu terasa di tempat ini. Hari-hari kami isi dengan banyak bermain (kebetulan Bang Ricky ke Jepang jadi bisa bebas melakukan apa saja tanpa kena ‘gulai’ hehehe). Kami bermain apapun di sini mulai dari main Counter Strike bareng-bareng sampai membentuk tim yang saling berebut menjadi yang terbaik sampai kadang bermain tengah malam lalu lanjut nge-PES dan melakukan hal-hal lainnya sambil menghibur diri dengan kepulangan tim KP lainnya yaitu tim UNEJ, Imam dan Iyul dari ELINS UGM, dan tim ITS-nya Creampink and the Gambles Squad.

Waktunya perpisahan akhirnya tibalah kepada kami. Waktu kami akhirnya habis dan harus pulang ke habitat kami. Tentu saja perpisahan adalah hal yang menyedihkan disini. Yang aku herankan entah kenapa ikatan di sini walaupun terbangun dalam satu minggu, dua minggu, bahkan hanya sebulan berkenalan dengan teman-teman KP, rasanya sudah seperti lama mengenal mereka dan sudah seperti saudara sendiri. Entahlah, misteri ini belum bisa aku pecahkan. Di sini, di tempat ini, kau pasti akan merasakan ikatan persaudaraan dan kekeluargaan yang tidak akan kau dapatkan di tempat manapun. Aku bersyukur, setidaknya perpisahan dengan kalian semua tidak jauh lebih berharga dibanding pertemuan dengan kalian. Karena bahagia itu bukan seberapa bagus hasil yang didapatkan apalagi seberapa hebat orang-orang yang dekat dengan
kita. Tapi bahagia itu datang di saat prosesnya, ya tentu saja proses yang kami bangun setiap hari di sini. Di tempat ini setiap hari setiap menit setiap detik yang kami lalui terasa begitu cepat. Ya, di sini kami sangat menikmati waktu yang kami jalani, kegiatan apapun bahkan sekedar
merenung di pohon kelapa belakang mess atau tertidur di padang rumput dekat kincir angin sambil menyaksikan tarian si penari langit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *