ciheras university

PERJALANAN

Perjalanan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, entah darimana datangnya keinginan itu pun tak jelas. Yang saya tahu hanya untuk memenuhi syarat dari satu mata kuliah di kampus saya. Tak tahu apa, di mana, kapan, siapa, dan bagaimana. Yang penting selesai mata kuliah saya. Tidak peduli halangan apapun itu semua saya lalui, tidak pernah terpikir untuk menambah ilmu atau apalah itu yang penting selesai. Namun saya juga punya motivasi ingin menambah ilmu dalam bidang energi terbarukan. Kerja praktek itulah yang membuat saya semangat untuk keukeuh pergi ke tempat itu. Tidak tahu medan tidak tahu di bumi bagian mana yang jelas mata kuliah saya selesai. Dengar-dengar juga kalau saya pergi ke tempat itu bakalan jumpa dengan Ricky Elson. Beliau adalah salah satu orang yang bergerak di bidang energi terbarukan. Hanya itulah yang saya ketahui. Jadi sesimpel itu motivasi saya untuk pergi ke suatu tempat yang tidak pernah saya ketahui tersebut.

Saya melaksanakan kerja praktek ini bersama kelima teman saya dan sejujurnya agenda awal kami adalah ingin jalan-jalan di Pulau Jawa. Pergi bermodal restu dari orang tua dan dosen pembimbing yang sebelumnya sempat membuat saya sibuk harus mengurus administrasi. Namun saya paham itu semua beliau lakukan karena ingin mendapatkan hasil yang tidak mengecewakan. Singkat cerita setelah dapat surat jalan dari dosen saya pun langsung memesan tiket dan hari itu juga saya langsung terbang menuju Pulau Jawa. Bermodalkan pengalaman organisasi saya menghubungi kolega saya yang berada di Jakarta dan saya pun di sambut hangat di ibu kota. Tidak tahu dimananya yang jelas saya tahu itu adalah Jakarta. Setelah jalan-jalan di Jakarta saya bergegas melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kereta tujuan Tasikmalaya. Kembali lagi saya menghubungi kolega saya di Tasikmalaya dan beristirahat di sana sambil menunggu kawan-kawan saya yang sempat terlebih dahulu jalan-jalan ke daerah lain.

Perjalanan menuju Ciheras melewati sawah, hutan, dan perkampungan yang asri jauh dari kota dan jangkauan dunia luar. Disana panggilan kami pun berubah menjadi Aa’ karena pada umumnya penduduk bersuku Sunda. Sampailah saya di tempat tujuan pada sore hari. Sesampainya di sana masih canggung dan binggung mau ngapain untung ada beberapa kawan yang sudah saya kenal sebelumnya jadi agak memudahkan dalam proses awal. Malam hari saat pertama kali saya melaksanakan evaluasi, salah satu agenda rutin di sana, saya merasa bingung apa yang akan saya sampaikan. Alhasil saya pun meniru kawan saya tentunya diawali dengan perkenalan diri dan menyampaikan kenapa kami ke tempat tersebut.

Baru saja datang kami sudah harus merasakan suasana perpisahan, menghantarkan kawan satu kota dari Universitas Riau pulang. Sangat terasa sekali suasana kekeluargaan, sedih tampak dari raut muka kawan kawan yang di tinggalkan. Tersadar begitu akrabnya mereka tentu kami berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi bagian dari mereka yang terlebih dahulu ada.

PT Lentera Angin Nusantara. Itulah nama perusahaan tempat kami kerja praktek. Awalnya kami berpikir akan jadi kacung, alias menjadi pekerja, alias menjadi bawahan yang tak bebas untuk berekspresi. Namun pemikiran itu sirna ketika kami berada di sana. Tempat yang lumayan jauh dari peradaban ini ternyata salah satu tempat yang sangat saya impikan: bebas menyalurkan pemikiran tanpa ada paksaan dan tekanan, namun yang jelas bertanggung jawab. Bukan hanya itu saja, di tempat ini saya di ajarkan begitu banyak hal yang selama ini saya cari. Tentang bagaimana menjalani hidup ini. Tidak melulu dengan teknologi tidak juga dengan kemewahan. Kesederhanaanlah yang membuat orang mampu untuk menghasilkan karya yang luar biasa.

Di sana kami melakukan hal yang pada umumnya orang lakukan. Tapi entah kenapa ketika berada di sana membuat hati saya terketuk untuk segera berubah, segera melaksanakan apa yang ada dalam benak kita dan jangan pernah menunda. Tempat yang sangat spesial. Tempat yang sangat luar biasa dan memberikan begitu banyak ilmu dengan cuma-cuma. Selama ini saya berdiskusi dengan teman teman tentang bagaimana supaya kita menjadi bagian dari agen perubahan. Di sanalah saya menemukan arti agen perubahan. Sosok yang sangat inspiratif, sosok yang memberikan jamuan ilmu yang begitu bermanfaat.

Di sana semua satu pandangan bahwa ketika ada permasalahan yang menyangkut orang banyak harus segera diselesaikan. Bermanfaat untuk warga sekitar inilah yang dinamakan pengabdian kepada masyarakat. Selama ini yang kami kenal hanya KKN (Kuliah Kerja Nyata), sebagai penjembatan kami untuk lebih dekat dengan masyarakat. Ternyata di tempat ini saya merasakan hal yang berbeda. Kami di ajarkan bagaimana menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, pemikiran awal yang 360 derajat berubah terjadi di daerah yang di kenal dengan nama Desa Ciheras. Desa di mana PT tersebut berada.

Rasa syukur yang tidak terkira ketika saya berada di tengah-tengah tim tersebut. Tim yang selalu bersemangat untuk mengabdi pada negeri. Bangga bisa menjadi bagian dari tim Lentera Angin Nusantara. Di sana tidak sedikit pun kami diajarkan untuk membenci dan menyalahkan orang. Yang diajarkan adalah: ketika terjadi kesalahan kitalah yang salah, dan bila terjadi kerusakan kitalah yang merusak. Apapun yang terjadi jangan pernah menyalahkan siapa pun, karena yang salah adalah diri kita sendiri. Maksudnya, kita yang belum berhasil dan belum mampu membuat segalanya berjalan dengan benar. Sesuai dengan kata-kata beliau: sebelum menilai orang kita nilai dulu diri kita sendiri, sebelum membina orang bina dulu diri kita sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *