ciheras university

LBN SELALU TERKENANG

Squad UNRI

Assalamualaikum wr.wb

Awal mula menentukan untuk KP di Lentera Angin Nusantara yang sekarang sudah ditransformasi menjadi Lentera Bumi Nusantara yaitu sebuah pusat studi dan pengembangan pemanfaatan energi baru terbarukan di Desa Ciheras, Tasikmalaya. Awalnya saya tidak ada niat untuk melaksanakan KP di LBN, karena saya tidak tau sedikitpun tentang LBN tersebut. Tetapi saya mencoba ikut dengan teman-teman UNRI yang ingin melaksanakan KP di sana dengan niat saya ingin liburan sambil belajar, dan mendapat dorongan juga dari senior-senior yang pernah melaksanakan KP di sana katanya asik. Jadi, kami langsung mencoba menelpon Bang Ricky Elson ternyata diangkat dan boleh untuk KP di LBN. Setelah itu kami pun mengurus berkas-berkas yang harus dipenuhi untuk bisa KP di sana tetapi sangat sulit, karena ada teman dari squad kami yang nilainya ada E inisialnya Dani. Karena teman saya itu sangat yakin ingin KP di sana dia pun tidak berputus asa untuk mengurusnya, mungkin karena ada rasa kasihan dari dosennya atau karena perjuangan yang tidak putus asa akhirnya dibolehkan. Kami squad dari UNRI ada 7 orang, 2 cewek berangkat pertengahan Juli dan 5 cowok berangkat akhir Juli. Kami para cowok menentukan untuk melaksanakan KP mulai 30 Agustus 2017-10 September 2017.

Keberangkatan kami para cowok dari Riau tidak sama. Sebelumnya liburan semester ganjil saya sudah liburan ke Jakarta jadi karena masih kurang, saya berangkat duluan 1 minggu sebelum mereka. Saya di Jakarta di kosan Abang saya dan setiap hari diajak nongkrong di kampusnya Universitas Pancasila. Karena merasa bosan, saya main ke tempat saudara yang rumahnya tidak jauh dari kampus tersebut. Dan disana saya bisa menikmati liburan dengan bermain main walaupun ingin kemana mana macet. Setelah 1 minggu saya di Jakarta, teman-teman saya pun berangkat dari Riau. Karena mereka baru pertama kali ke Jakarta, jadi saya menjemputnya di Bandara Soekarno Hatta dan akhirnya kami berjumpa kembali. Ketika sampai di bandara merekapun kelaparan dan mereka mengajak untuk makan terlebih dahulu, saya ikut saja kemauan mereka. Di salah satu tempat makan di bandara kami pun langsung memesan, ketika melihat menunya kami semua terkejut dengan harganya. Karena ada rasa sedikit gengsi kami langsung memesan saja walaupun harga semangkok bakso 50 ribu dan air putih 1 gelasnya 8 ribu. Mungkin itu bisa diambil hikmahnya saja bagi kami dan buat pelajaran. Setelah selesai makan, kami melanjutkan perjalanan kembali. Kami menunggu Bus Damri jurusan Pasar Minggu di halte dan setelah beberapa lama akhirnya datang dan kami langsung naik. Di tengah perjalanan teman saya ada yang mabok, sebut saja Kodar sampai ke lokasi dan akhirnya dia lemas tidak berdaya. Pada waktu kami mau transit naik kereta kami menunggu dia sampai nyawanya kembali utuh. Ketika dia sudah sehat kembali kami melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai di tempat kosan Abang saya kembali.

Esok harinya mereka ingin main ke Masjid Istiqlal dan Monas, jadi saya menurutin kemauan mereka. Kami pergi naik kereta sampai Stasiun Juanda dan tujuan pertama ke Masjid Istiqlal, kami pun istirahat dan shalat disana. Sore harinya kami lanjut ke Monas, saya mengajak mereka untuk naik kendaraan umum seperti bemo, tetapi teman saya ada yang tidak setuju sebut saja namanya Herli karena dia melihat google maps dekat “katanya” dengan faktor keuangan juga. Jadi, saya menurutin kemauannya. Kami jalan dari Istiqlal kurang lebih 1 jam karena kami hampir saja mengelilingi Monas untuk mencari pintu masuknya. Setelah sampai kami pun beli tiket untuk naik ke atas, ternyata bisanya jam 7 malam dan akhirnya kami tetap memesan. Untuk menghabiskan waktu sampai malam kami foto-foto sampai bosan. Ketika adzan Maghrib tiba kami pun melaksanakan shalat di dalam Monas tersebut. Setelah itu kami mencoba untuk naik ternyata antri panjang untuk bisa naik ke atas Monas kurang lebih ½ jam. Dan akhirnya tiba giliran kami untuk naik ke atas tetapi tidak seperti yang diharapkan karena HP kami sudah habis daya baterainya yang untuk foto. Jadi di atas kami hanya melihat-melihat betapa indahnya kota Jakarta saja. Setelah bosan akhirnya kami turun kembali dengan kata lain dalam hati setidaknya sudah pernah naik ke atas Monas. Kami jalan kembali sampai Stasiun Juanda sekalian olahraga “katanya” dan membuktikan jika kami itu kuat. Akhirnya kami naik kereta dan sampai ke kosan Abang saya kembali.

Keesokan harinya kami memutuskan untuk berangkat ke Ciheras dengan faktor keuangan sudah menipis juga. Kami berangkat Sabtu malam jam 8 agar bisa malam mingguan di dalam bus. Akhirnya sampai di Tasikmalaya jam setengah 4 pagi. Setelah turun dari bus, kami disambut oleh para calo untuk naik bis ¾ tujuan Ciheras. Kami menolak karena waktunya sebentar lagi memasuki adzan Shubuh dan kami memutuskan untuk istirahat di musholah dekat terminal tersebut. Ketika kami sedang istirahat, calonya mendatangi kami kembali katanya bis jam 4 berangkat dek, kami pun bilang nunggu shubuh pak dan dijawab kembali nanti shalat di masjid besar katanya, di situ ada sedikit perdebatan. Akhirnya kami tetap menunggu setelah Shubuh. Setelah hari sudah pagi, saya dan teman saya mencoba untuk ke terminal kembali ternyata benar para calonya hanya diam saja karena tidak ada bis yang ke Ciheras, jadi kami menunggu sampai jam 7 pagi. Ketika bisnya datang kami pun langsung naik dan ternyata perjalanannya sangat seru tidak seperti yang dibayangkan. Kami seperti pergi ke Dufan dan naik roller coaster yang tidak ada di tempat lain walaupun hanya membayar dengan 40 ribu. Setelah 3 jam perjalanan akhirnya kami diturunkan di sebuah simpang yang kami kira bukan itu tempatnya. Pertama jumpa yaitu Bang Dayat waktu itu lagi di warung Bu Susi dan kami diantar ke dalam. Akhirnya kami dikasih penginapan di Hotel Kalipornia bintang 5. Setelah itu kami pun istirahat karena hotelnya membuat kami nyaman untuk beristirahat. Sore harinya kami melihat lingkungan sekitar dan berkenalan dengan teman-teman baru. Kami sedikit terheran dengan keadaan kincir yang hanya tinggal sedikit karena kami melihat di Youtube kincirnya banyak, perkiraan kami juga Ciheras ini tempat pembuatan mobil listriknya ternyata tidak, dan kami pun harus menerima kenyataan karena untuk sampai ke Ciheras butuh perjuangan yang besar.

Malam harinya kami kena ospek terutama saya dan Dani karena kami tidur tidak di hotel yaitu di saung Bang Hendrik, kaki saya gatal-gatal karena gigitan nyamuk tetapi itulah hidup tidak selamanya enak. Saya dan Dani sengaja tidur di luar hotel karena kami tidak terbiasa nginap di hotel dan hotelnya sudah penuh juga, begitulah kami tidur seterusnya. Tetapi enaknya KP di LBN tidak hanya akademis, non akademis dan ekstrakurikuler ada juga. Kami juga belajar beternak lele, domba, (biodigester yaitu menghaluskan kotoran kambing yang nantinya diubah menjadi gas metana), ada juga membuat teh dari daun kelor dan penyulingan kapulaga. Karena saya suka olahraga saya sangat menikmati olahraga di sana yaitu bermain sepak bola dan bola volley, jadi kesehatan juga terjaga. Dan yang tidak terlupakan adalah pantainya yang indah walaupun setelah kena airnya kaki akan gatal-gatal. Setelah 1 minggu di sana kami pun penasaran dengan mercusuar yang kata teman-teman bagus. Jadi kami tim dari UNRI, UNILA, PENS dan PNJ mencoba untuk ke sana. Setelah berjalan kurang lebih 1 jam menyusuri pinggir pantai akhirnya sampai, tetapi sedikit kecewa kembali karena tidak seperti yang dibayangkan. Perkiraan saya seperti yang ada di TV ternyata biasa saja. Untuk menghilangkan rasa kecewa, kami akhirnya foto-foto sampai ketika teman saya Herli sedang mau foto ternyata datang ombak besar dan dia basah kuyup, kami pun bersyukur karena dia tidak terbawa ombak tersebut. Tidak lama setelah itu kami memutuskan untuk pulang karena berbahaya. Kami pulang lewat jalan raya sekalian ingin menumpang truk yang akan lewat. Ketika mau keluar ke jalan raya ada truk yang lewat dan teman saya langsung lari sambil memanggil truk tersebut akhirnya truknya berhenti. Kami pun sekitar 10 orang lari dan sopirnya kaget dengan kedatangan kami. Mungkin dengan rasa kasihan kami boleh untuk menumpang di truknya. Sekitar 15 menit akhirnya sampai, sangat jauh berbeda dengan jalan kaki. Pada waktu menjelang 17 Agustus kami mengadakan acara untuk memeriahkan acara 17-an, ada pertandingan volley, balap F1, bermain lempar balon, mengambil koin dalam tepung walaupun kegiatan-kegiatan tersebut dipenuhi dengan kecurangan, tetapi rasa kekeluargaannya sangat dapat. Dimulai akhir Agustus banyak teman teman yang berpulangan karena masa aktif KP-nya sudah habis, di situ merasa sedikit sedih dan ada juga sisi bahagianya karena kamar menjadi tidak penuh lagi. Yang membuat kekeluargaannya semakin erat yaitu sering mengadakan makan bersama. Ketika hari raya Idul Adha kami juga ikut berpartisipasi dalam pemotongan domba yang begitu banyaknya sekitar 200 ekor. Malam harinya kami membuat sate kambing dan makan bersama kembali. Tidak terasa kami squad UNRI juga dengan berat hati harus meninggalkan LBN. Jarak bisa memisahkan tetapi kenangan tidak akan pernah terlupakan.

Dari 7 orang kami pulangnya tidak sama kembali. Saya dan Herli ke Bandung sebentar lalu ke Jakarta Setelah itu pulang kembali ke Riau. Ketika kami ke Bandung dari terminal Tasikmalaya kami naik Bus Primajasa tujuan Lebak Bulus sedangkan tujuan kami Buah Batu. Akhirnya kami diturunkan di tol lalu kami melompati 2 pagar dan dijemput oleh teman. Karena teman kami baik dia meminjamkan kami motor tetapi tidak dengan STNK karena mungkin dia lupa. Dengan modal nekad kami pergi dari Telkom ke ITB dengan jarak yang jauh tetapi perlengkapan motor lengkap untuk menemui teman-teman dari UNILA. Setelah jumpa kami main-main di ITB lalu ke Masjid Raya Agung Bandung dan Alun-Alun. Ketika waktu sudah malam kami akhirnya pisah kembali dengan anak UNILA. Rencana kami ingin beli oleh-oleh seperti baju dengan bermodalkan google maps kami berangkat, tetapi ketika di perjalanan tepatnya di tikungan ada razia. Posisi saya yang membawa motor saya kira tukang parkir akhirnya kami diberhentikan. Karena tidak membawa STNK saya sedikit panik. Jadi polisinya minta kami bayar denda 350 ribu karena panik saya tawar 300 ribu dan polisinya tidak mau. Herli pun menghubungi teman saya dan dia minta untuk ngomong dengan polisinya. Setelah dikasih mereka berbicara dan ujung-ujungnya kami hanya kena 100 ribu. Dalam benak saya terpikir polisinya yang bego atau saya, mau di kasih 300 ribu tidak mau ujung ujungnya 100 ribu. Saya mengangap itu sebagai sedekah dan akhirnya kami pulang tidak jadi untuk beli baju.

Keesokan harinya kami memutuskan untuk ke Jakarta. Setelah sampai di Jakarta kami berkunjung ke kampus PNJ dan kami diajak keliling-keliling sekalian ke UI yang katanya jembatan merah. Setidaknya saya sudah tau Universitas Indonesia. Esok harinya kami menghabiskan waktu dengan anak PNJ ke Dufan Ancol Jakarta karena lagi ada promo masuk Dufan 100 ribu. Kami naik wahana-wahana yang ada, tetapi dari anak PNJ ada 2 orang yang takut ketinggian yaitu Deswin dan Teguh jadi tidak semua dicobain wahananya oleh mereka. Setelah malam kami ke Kota Tua tetapi hanya menumpang makan saja lalu kami kembali pulang. Keesokannya kami pun pulang ke Riau kembali, rencana teman-teman dari PNJ mau mengantar, tetapi karena waktu tidak memungkinkan tidak jadi. Kami juga sudah terburu-buru untuk sampai ke bandara karena takut macet ternyata sampai di bandara delay 1 jam pesawatnya. Akhirnya kami take off malam dan alhamdulillah selamat sampai tujuan dan bisa berkumpul lagi bersama teman-teman dari UNRI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *