ciheras university

CERITA DARI NEGERI PARAHYANGAN

Muhammad Iqbal Yuze

Tahun lalu 2016, ketika saya mulai mengikuti akun instagram Bapak Walikota Bandung, Ridwan Kamil, seolah-olah menarik selimutku untuk beranjak dari Daerah Duri (Riau) lalu pergi ke Bandung. Lalu dengan penuh pengharapan disetiap doaku selipkan pengharapan agar disegerakan untuk menginjakkan kaki di Bandung. Tepat setahun setelah itu langsung saja doaku dikabulkan oleh-Nya.

Perjalananku tidak mulus untuk bisa sampai ke Kota Bandung ini. Entah apa rahasia Tuhan yang disembunyikan-Nya kepadaku, perjalananku diarahkan-Nya ke Ciheras, Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya. Mungkin juga ini adalah cara-Nya untuk membuatku tenang dengan dinamika dan problematika yang ku tinggalkan di tanah melayu sana.

Terpikir juga alasan berangkat ke Ciheras, dengan modal tekad dan semangat untuk membayar dosa akademik yang telah ku perbuat selama kuliah di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) Riau, dengan niat untuk belajar (lagi) selama satu semester disana.

Hari demi hari menjalani hidup di Ciheras, bertemu orang baru, mendapatkan cerita baru, membuat otak ini dipaksa untuk berpikir berakarkan problematika yang ditinggalkan di kampung halaman, membuat kegundahan ini semakin bergelora. Seringkali terbesit  di telinga ini untuk segera menyelesaikan problematika itu. Namun semua itu membutuhkan waktu dan kesabaran agar bisa segera menyelesaikannya.

Memang ini adalah masa-masa ambigu dalam hidupku. Dimana saya harus bisa dengan segera memutuskan untuk mengambil langkah yang mana. Perlu memikirkan dengan pikiran yang jernih, lalu mempertimbangkannya sebelum mengambil keputusan. Sehingga ketika sering bertemu dengan orang dari latar belakang yang berbeda, semakin banyak pilihan untuk melangkah, semakin banyak pulalah rasa bingung di kepala ini. Ada baik dan ada tidaknya.

Baiklah, cerita di atas hanya ungkapan kegundahan yang membuat kepala ini pusing. Lebih baik memikirkan hal yang akan diputuskan. Cerita ini diawali dari Ciheras, nama daerah di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Tempat “Sang Putra Petir”, Ricky Elson mengabdikan dirinya untuk bersama membenahi negeri ini. Tempat ini banyak dikunjungi oleh mahasiswa teknik (kebanyakan elektro, mesin dan fisika) yang berasal dari kampus diseluruh wilayah di Indonesia.

Bang Ricky saya biasa menyapanya, adalah seorang pakar dan banyak memegang paten atas karyanya dalam bidang perancangan generator dan motor listrik, anak Indonesia berdarah minang ini menjadi terkenal setelah bergabung bersama Dahlan Iskan untuk merancang mobil listrik pertama untuk negeri ini. Beliau pun juga berhasil menciptakan “The Sky Dancer” (sebutan untuk kincir angin ciptaannya) yang bisa berputar pada kecepatan angin rendah. Begitulah sekilas tentang Bang Ricky, itulah alasan kenapa banyak mahasiswa teknik yang berguru padanya.

Ada kebanggaan tersendiri dalam diri ini karena bisa bercerita, bercanda dan tertawa bersama Bang Ricky. Karena tidak semua anak muda negeri ini yang bisa memiliki kesempatan seperti saya. Dengan kesederhanaan yang dimiliki, sehingga penuh rasa syukur atas apa yang dijalani sehari-hari di sini. Semua berbaur tidak ada yang merasa pintar dan tidak ada yang merasa dibodohkan. Semua saling sharing, saling berdiskusi dan berbagi. Suasana seperti inilah yang terus dijaga oleh para pemuda yang berada di sana. Dan hal itu semua adalah buah kesabaran dari seorang guru. Semua yang terpikir di kepala ini bisa dilakukan di sana, tanpa ada batas untuk berkarya. Asalkan ada niat dan mau melakukan, lakukanlah. Begitu kata Bang Ricky.

Tempat yang sangat recomended untuk para anak muda Indonesia yang ingin belajar untuk mengabdikan diri, untuk belajar mencintai negeri ini. Karena tidak hanya hal-hal yang berbau teknologi yang diulas di sini. Segala hal tentang negeri ini yang akan didengar oleh telinga. Membicarakan kondisi daerah, menceritakan potensi, hingga membuat sebuah solusi untuk memperbaiki kondisi negeri ini. Ya memang semua itu yang harus dibahas jika ingin menimbulkan rasa cinta terhadap negeri ini. “Karena sesungguhnya bukan INDONESIA yang butuh KITA, tapi KITA lah yang membutuhkan INDONESIA ini”. Tanpa nama Indonesia, apakah pelajar seperti Anda bisa dapat beasiswa sampai ke Amerika, Jerman dan Inggris sana? (jawab sendiri).  

Lalu, dengan segala kebaikan yang ditawarkan, dengan segala kesempatan yang telah diberikan negeri ini, masih juga ada rasa untuk menuntut agar keinginan dari jiwa yang sombong ini untuk dipenuhi? Apakah masih kurang segala nikmat yang dikirimkan Tuhan memalui negeri ini untuk Anda? Sehingga Anda tidak mau pulang untuk negeri ini? Lalu dengan lantang Anda mengatakan “saya tidak dihargai oleh Indonesia”. Lucunya manusia negeri ini, karena terlalu lalai terhadap kebaikan negeri sehingga ibarat negeri ini memelihara anak harimau, yang setelah besar memangsa majikannya sendiri. Hal ini berawal dari jiwa yang di dalam dirinya ada “setitik rasa meninggi, maka titik itu juga ada rasa merendahkan”, akibatnya menjadi sombong dan angkuh. Lalu apakah kurang penjelasan dari Tuhan yang mengatakan, “jika kau beryukur atas nikmat yang KU berikan, maka akan KU tambah nikmat itu, dan AKU janjikan juga derajat yang lebih tinggi jika kau belajar dan bersyukur”. 

Sehingga tidak hanya tentang dunia ini yang dapat dipelajari di sana, tentang akhirat pun akan diulas di Ciheras. Tempat berbulan madu, bukan tempat untuk beranak. Semoga orang-orang yang pernah menginjakkan kaki di sana, yang pernah berkontribusi di sana, yang pernah berkarya di sana, yang pernah belajar di sana selalu diberikan perlindungan oleh Tuhan dan rasa cinta terhadap Indonesia tetap terus tumbuh di hati.

Dan akhirnya berkat Ciheras, saya dipertemukan dengan banyak orang dan saya diantarkan sampai ke Bandung, bertemu Ridwan Kamil (tapi cuma duplikatnya hahaha). Hikmah yang saya dapat di sini adalah begitu luarbiasanya kekuatan doa jika kita terus percaya dan berusaha. Tetaplah berdoa untuk negeri ini, tetaplah belajar, tetaplah rendah hati, tetaplah berusaha untuk kebaikan negeri kita Indonesia.

Terus bangun relasi, menginspirasi dan berkarya setulus hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *