lentera bumi nusantara

Cerita Cemong

Cemong dia anak gaul. Asalnya dari Jakarta. Dulu waktu ketemu mukanya cemong-cemong makanya namanya jadi Cemong. Dibawa bang Ricky Elson dan kak Piala naik bis. Gen nya gen jalan-jalan makanya di Ciheras kerjanya pun jalan-jalan.
Pada masa kecilnya, di mana ada manusia, pasti ada Cemong. Soalnya dia ga suka kesepian.
Kalau ada kami manusia sedang foto-foto, Cemong pasti nyamperin.
Kalau kami sedang sibuk maintenance kincir angin, atau lagi workshop masang kincir, Cemong pasti ikut memperhatikan.
Kalau kami sedang ke pantai untuk olahraga dan main bola, Cemong membuntuti dari belakang. Ia juga tahu jalan pulang sendiri.
Cemong sering minta ikut main bola. Tapi ga dibolehkan karena takut ketuker sama bola.
Cemong waktu remaja suka peluk-pelukan sama guling, sama bantal, sama selimut, sama boneka, sama betis. Belum bisa bedakan mana betina mana betis. Dia sempat frustasi karena ga dapat kesempatan dapat betina karena saingannya berat.
Saingan Cemong namanya Jalu. Beribu kali Cemong dihajar, Cemong tidak pernah menyerah. Dia selalu pasang posisi defense. Tapi tetap saja bisa diserang. Pulang-pulang dia pun menangis karena sudah ada luka di sana-sini. Tapi dari beribu kali pertarungan itu, Cemong selalu belajar. Sehingga pada pertarungan ke beribu satu memperebutkan status Pejantan Alpha Nomor Satu, Cemong pun menang mengalahkan Jalu. Si Jalu kucing tetangga pun mati. Tetangga pun protes. Karena katanya Cemong membunuh kucingnya.
Cemong pernah patah kaki, tapi sembuh sendiri. Cemong pernah kegiles ban, tapi sembuh sendiri.
Cemong suka nongkrong di rumah Bang Rae PeaceLove dan Bang Yudha Gafur yang letaknya di pinggir jalan. Kalau Cemong dipanggil dari tengah jalan sambil kita naik motor, Cemong pasti menoleh. Walaupun sudah jarang ke site tapi ia ingat kalau namanya Cemong.
Cemong waktu kecil kalau makan, makanannya pepes ayam satu potong sendiri. Sekarang saat sudah dewasa selalu berbagi makanan dengan istri-istrinya.
Karena Cemong dari kecil sudah naik bis, sampai besar pun senang naik kendaraan. Saat kecil senang dibawa di keranjang sepeda. saat remaja hingga sudah besar suka naik ke motor di tempat naruh kaki.

Sekarang Cemong sudah diganti kan oleh keturunan nya, karena dia sudah tua dan memang tidak ada yang berani melawannya lagi, dan dia menghabiskan sisa hidup nya di rumah Bang Gofur, hingga dia di panggil Sang Pencipta nya.

Terima kasih telah bersama kami
Dan mewarnai hari hari kami
di Ciheras ini,
Terima kasih untuk para sahabat dan tetangga yang telah menyayangi nya, selama ini.

Ciheras, 20171111

#ceritaciheras
#CeritaCemonk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *