ciheras university

BERPETUALANG DI CIHERAS

Cerita Ciheras: Arretha Nisa

“KALO BANG RICKY BILANG HIDUP ITU TENTANG SEBERAPA BERSUNGGUH-SUNGGUH KAMU BERCERITA, SAYA MAU BILANG HIDUP ITU TENTANG SEBERAPA BERSUNGGUH- SUNGGUH KAMU BERPETUALANG”.

Gua ga mau klise. Cerita Ciheras itu biasanya cerita tentang gimana Ciheras bener-bener “SUPERWOW”. Sebagai bocah yang sangat menginginkan “magical sh*t” happens, ya gua juga nunggu-nunggu itu titik balik menghampiri kan. Lah, sampe gua balik, bahkan sampe cerita ini dibuat, kok gua ga ngerasa ada titik balik? Ga ngerasa ada magical things? INI SALAH SIAPA??! Ternyata bukan salah siapa-siapa. Dan ternyata, gua bukan special snowflakes. Masing-masing orang besar dengan caranya sendiri, kebentuk dengan lingkungan yang ada disekitarnya, dari latar belakang yang beda-beda juga. Ada yang gampang kesentuh, ada yang lempeng-lempeng aja. Gua? Haduh, mainnya masih kurang jauh, pulangnya masih kurang malem, harinya? Bleh ga produktif sama sekali. Pokoknya masih belom ada cerita lah. Buat gua, Ciheras jadi salah satu titik persinggahan dalam perjalanan ke barat mencari kitab suci (gak masuk sama sekali, skip). Bukan, gua sama sekali bukan mengesampingkan segala keindahan dan kemantaban dan segala lika-likunya, karena seriously dood, sapa pula yang gak tersentuh sama keromantisan Cihuy 1 ? Seenggak punya hatinya lo, pasti Ciheras punya tempat walaupun dikit, dikiiit aja. Entah ketika lo diem, merhatiin anak-anak lagi main voli, atau pas lo nge-blank dengerin Bang Ricky lagi bacain buku atau cerita, pas pagi-pagi lo ke pantai, sendirian, cuma kepengen ngedengerin ombak sambil ngeliat bulan sama matahari ganti shift – sambil deg-degan dikit soalnya diikutin anjing (loh kok curhat??). Rasanya ilham dateng aja gitu kan, kepikiran sesuatu, entah itu solusi, mimpi, perasaan, semangat, apapun, but something must happen. Bukan, bukan karena tempat itu ada ilmu gaibnya. Jangan takut ehe. Kalo menurut gua, penyebabnya tuh karena ketika lo ada di Ciheras, lo ada di tempat yang bener-bener beda dari kehidupan lo biasanya.

Belajar, tanpa beban, ngobrol apapun – APAPUN – ke temen-temen, ke siapapun, bisa. Ketemu orang dari banyak tempat, banyak latar belakang, Dengan waktu yang ga bisa dibilang sebentar, something must happen. Mungkin emang Ciheras bukan titik balik kehidupan gua. Lel, salah besar kalo dibilang habis dari Ciheras, gua jadi orang yang alim, filosofis, sabar, pengasih, penyayang, punya penataan masa depan yang baik, lalala, lelele. Terlalu dini. Tapi, bohong juga kalo gua bilang Ciheras ga berkesan. At least, I got tanner here mwehehehe.

Gua Arretha Nisa, remaja ingusan yang masih butuh pengakuan, masih mencari jati diri, sombongnya na’udzubillah kalo ke temen-temennya, kalo ngomong, Ya Tuhan tobatlah nak, sampe ga paham ini anak ngomong apa. Dan Ciheras semakin meng-amin-kan pernyataan-pernyataan sebelumnya. Tapi dari segala kekeraskepalaan gua, segala nasihat dari temen-temen (yang kadang mental gitu aja, cuma gua iya-iyain) yang dikumandangkan secara berkala, ternyata perjalanan di Ciheras ga seenggak masuk itu. Selama empat minggu di Ciheras, jujur aja, minggu yang paling berkesan jelas minggu terakhir. Why? Karena beban akademiknya udah gua anggap kelar abis presentasi mingguan yang terakhir, tinggal finishing aja lah. Sebenernya, bisa aja gua dan Nauvan (sisa-sisa Tim Generator 1) ngelanjutin modul dengan sistem kebut terabas semua, but what’s the point? What are we trying to prove? Akhirnya kita berdua sepakat untuk berhenti, dan menikmati hidup di sana. Kalimat Cihuy-nya “berbulan madu dengan diri sendiri.”

Ya Tuhan, rasanya beda banget. Entah ini karena temen-temen yang lain masih kerja sedangkan kerjaan gua cuma main-main sambil wawancara mereka, atau karena emang gua sangat menikmati waktu dengan diri sendiri. Satu perasaan gua yang paling kuat saat itu, dan bikin gua mikir keras selama di sana, sebenernya gua kenapa, gua gak sabar balik. Sangat gak sabar. Semakin mendekati hari kepulangan, semangat gua semakin meledak-ledak. Dan di saat yang sama, keterikatan gua sama tempat ini semakin menggila. Gua pengen banget pulang ke Jogja-Solo, dan gua pengen tetep ada Ciheras. Selama di Lentera Bumi Nusantara, banyak hal yang gua lihat, dengar, dan rasakan. Terlalu banyak, dan rasanya cepet-cepet pengen gua cobain di luar Ciheras, akankah sama jadinya? Di lain sisi, satu minggu terakhir gua di Ciheras adalah minggu relaksasi, dimana gua lebih sering banyak diem, mikirin hal pribadi, flashback, mengandaikan banyak hal, memberanikan diri bermimpi. Gosh, sounds too perfect, isn’t it? It’s like, too good to be true. But, here comes the reality. Dari tiap pertemuan yang ada, bakalan ada perpisahan yang menunggu. Gataulah, itu baik apa enggak, semesta gak peduli. Tergantung lo mau nanggepinnya kaya gimana. Setelah bertanya kepada semesta, KENAPA WOYYYY akhirnya gua teringat sebuah kalimat, yang super cringe, super cheesy, dan terdengar sangat nggak banget buat dijadiin quotes favorit Arretha (dengan segala citra yang dia bikin) di 2018. Mungkin, si empunya quotes ini pun pas ngomong ngasal doang apa gimana, gua ga paham. Waktu pertama dia nyeletuk quotes ini, gua inget kita-kita lagi pada duduk-duduk, nyanyi sambil gitaran di luar (soalnya panas), tapi nyanyinya sampe merem-merem kelewat ngehayatin gitu.

Terus, orangnya bilang, “kalau memberi kesan, jangan terlalu dalam.” DYAR gua diem. Tapi pas di minggu terakhir kemarin, gua rasanya nemu counter yang pas. “Kalau mengambil kesan, jangan terlalu dalam.” Dan gua mengambil kesimpulan, bahwa Ciheras cuma boleh jadi salah satu tempat gua berpetualang. Bukan karena tempat ini kurang, bukan karena tempat ini biasa aja. Tapi karena gua masih harus melanjutkan petualangan, dan keterikatan gua sama tempat ini gak boleh menjadikan gua buat berhenti. Masih banyak Ciheras-Ciheras lain yang harus gua kunjungin. Masih banyak pertemuan dan perpisahan lain yang harus gua jabanin. Qona, salah satu temen gua cerita di presentasi akhirnya, “Ciheras itu tempat yang terlalu ideal.” Waktu dia presentasi, gua duduk di luar (di dalem panas, gua ga kuat, udah pake kemeja siap-siap mau balik soalnya), setengah dengerin. Tapi kata-kata itu bikin gua senyum. Itu kata yang sangat tepat buat ngegambarin perasaan gua akhir-akhir ini, pikir gua waktu itu. The show must go on.

_________

#CeritaCiheras ini ditulis setelah 1 hari hibernasi dari Ciheras + ngobrol dengan Aloysia Reni, sahabat saya, yang alumni Ciheras juga. Seberapapun saya berusaha menekan perasaan saya terhadap Ciheras, tempat itu akan selalu punya warna dan tempat tersendiri di hati saya. Dan biarkan saya dan Tuhan saja yang tau dan mengerti tentang hal ini, karena saya tidak mampu menjelaskannya dengan kata-kata. Maafkan segala kesalahan yang jelas ada pada penulisan #CeritaCiheras versi saya ini. Maafkan karena sembarangan mengutip, sembarangan menyebut nama orang dengan tidak sopan.

Terimakasih kepada seluruh staff LBN yang telah menerima kami, pelajar-pelajar yang tidak tau diri, sok tau, sok asik, dan segalanya. Terimakasih kepada siapapun yang bertemu saya selama masa KP saya (Desember 2017 -Januari 2018) yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Terimakasih kepada siapapun yang pernah ada di Ciheras dari awal hingga akhirnya menjadi seperti saat ini. Jejak kalian sangat terasa, baik secara fisik, maupun atmosfer yang kalian tinggalkan. Maafkan saya, yang kemungkinan besar tidak memberikan kesan baik, atau malah tidak berkesan sama sekali. Maafkan saya, belum mampu memberikan apapun ke Ciheras. Ijinkan saya suatu saat untuk kembali kesana, dan memberikan sesuatu kepada kalian semua. Ciao!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *